Floria Zulvi. A girl who loves Jason Mraz with every single breath in her life.. She lives passionatly. The next journalist soon to be. Study Journalism at IISIP Jakarta'11. Addicted to Milo and Prague. Not an Ordinary girl because she has an extraordinary life. Korean Drama Enthusiast, Kim Jong Kook lover, Fan of Kang Gary, Kim Si Hoo geek - but after all i'm Mraz Woman
Janji Feli (1)
“hidup ini emang gak selalu berada di jalur yang lo pengen, atau sesuai situasi yang udah lo rencanain kali, Fel.”
Kalimat itu selalu muncul dalam benak Feli. Entah saat dia makan, sebelum tidur, menunggu bus di Halte, atau bahkan sekedar buang air besar. Kalimat itu memang hanya akan hilang saat fokus Feli teralihkan kepada sesuatu yang lain.
“D’uh! kenapa sih gue? Kenapa selalu kefikiran sama kata-kata Ilon?”Feli pun membuang nafas berat.
Kalimat itu adalah kalimat yang dikatakan Ilon saat memutuskan hubungan spesial mereka. Hubungan mereka berhenti secara sepihak saja. Feli yang sangat menyayangi Ilon tentu saja tidak bisa menerima begitu saja keputusan Ilon. Tapi, apalah dayanya? Ternyata ada hal lain yang selama ini tidak diketahui Feli. ingatannya pun terbayang pada masa-masa bahagia mereka dulu.
Di Telpon : Pukul 21:55
Ilon : “Fel..”
Feli : “Kenapa Lon?”
Ilon : “Sekarang kan udah hari kamis, sedangkan hari senin nanti kita harus masuk sekolah lagi. Ng… besok malem aku harus udah balik ke Surabaya. Kamu bisa nggak kalo besok siang kita ketemu lagi sebelum aku pulang?”
Feli : Yaampun Loooon, kenapa kamu gak bilang sih? Kenapa dari awal kamu gak ngasih tau aku kalo kamu pulang besok?
Ilon : “Maaf Fel. Aku cuma gak mau ada kekhawatiran di hati kamu. Aku gak mau kamu merasa terbebani dengan waktu yang kita punya nanti. Aku pun gak mau meninggalkan kamu dengan kesedihan di Jakarta.”
Feli : “Tapi kenyataannya kan sekarang aku lebih sedih. Aku cuma jadi seseorang yang gak mengerti tentang kamu. Kamu ngerti kan kalo aku benci hal itu, Lon?”
Ilon : “Iyaa, Fel. Aku ngerti! tapi aku harus gimana? Aku gak mau kamu terbebani! Kamu tuh gak ngerti ya?!”
Feli : “Oh, jadi sekarang aku yang dipersalahkan?”
Ilon : “Kamu kayak anak kecil, Fel!”
Tut… Tut… Tut…
Telpon pun terputus.
“Kamu yang kayak anak kecil, Lon. Kenapa gak kita hadapi aja kenyataan ini bersama? Aku mencintai kamu. Tanpa syarat. Dan kamu tahu itu. Aku pun sampe sekarang masih setia menunggu kamu, walau kamu jauh. Walau kamu di luar jangkauan. Walau kita terpisah jarak.” Sambil menangis Feli menenggelamkan mukanya di tumpukan bantal. Ia tak pernah mengira bisa sesabar ini menghadapi pria yang sudah 5 bulan ini menghiasi kesehariannya walau hanya dengan sms ataupun telepon. Feli sama sekali tidak berniat untuk menlpon Ilon kembali. Ia tahu itu akan sia-sia. Ia mengerti Ilon dengan sangat. Si Pria berkepala batu memiliki ego yang sangat tinggi.
* 30 menit kemudian *
Drrtt… Drttt…
Feli langsung mengangkat telponnya. Ia tahu itu pasti Ilon, namun ia sama sekali tidak berniat memulai percakapan, apalagi mengeluarkan suara. Ia masih menangis. 30 menit lebih ia menangis membuatnya lelah. Ia mengantuk sekali. Namun, ia tahu kalau Ilon pasti menelponnya.
Ilon : “Halo, Fel…”
Feli : “…”
Ilon : “Kamu nangis ya?” Tanya Ilon cemas.
Feli : “A..aku ga..gak apa-apa k..kok”
Ilon : “Fel, maafin aku. Maaf aku selalu nyakitin kamu. Maaf aku udah berkali-kali bikin kamu nangis. Aku salah, Fel. Memang seharusnya aku jujur dari awal ke kamu. Maafin aku ya, Fel?”
Nada suara Ilon terdengar sangat menyesal. Feli tahu, Ilon telah introspeksi diri. Feli pun merasakan cinta Ilon terhadap dirinya yang begitu besar.
Feli : “Aku gak papa kok. Aku mengerti posisimu” jawab Feli dengan sedikity senyum dan perasaan lega yang mulai terpancar.
Ilon : “Aku sayang kamu, Fel. Sayang banget.”
Feli : “Aku tau kok. aku juga sayang kamu. Terlalu sayang kamu tepatnya.”
Ilon : “Fell…”
Feli : ” Ya?”
Ilon : “Ngg.. kamu mau gak jadi yang terakhir buat aku”
Dari suara Ilon, Feli tahu Ilon menlontarkan pertanyaan itu dengan tulus. dengan polesan senyum yang tersungging di bibir kesukaan Feli. Ya, Feli memang sangat mengaggumi dan menyukai bentuk bibir Ilon. Menggemaskan katanya.
Feli : “Aku mau, Lon”
Ilon : “Serius?? Janji?”
Feli : “Iya, Lon. Aku janji!”
Dan, Ilon pun mengetahui perasaan senang yang dirasakan Feli yang hanya terwakilkan oleh suara riang yang didengarnya.
Drrtt… Drrttt….
Bayangan indah masa lalu pun musnah seiring bergetarnya handphone Feli, dan Feli pun kembali tersadar bahwa itu adalah serpihan masa lalunya yang tak mungkin bisa kembali. Sampai ia membaca isi pesan yang telah membuat handphonenya bergetar………
*Bersambung*