Floria Zulvi. A girl who loves Jason Mraz with every single breath in her life.. She lives passionatly. The next journalist soon to be. Study Journalism at IISIP Jakarta'11. Addicted to Milo and Prague. Not an Ordinary girl because she has an extraordinary life. Korean Drama Enthusiast, Kim Jong Kook lover, Fan of Kang Gary, Kim Si Hoo geek - but after all i'm Mraz Woman

Aku Yang Akan Menjadi Seorang Aku

Bahagia itu sesederhana kalimat “Mami mendukung apa saja yang kakak lakukan”. Ya, sesederhana itu. Dengan itu saja aku sudah merasa lega. Aku tahu, tak semudah itu. Aku malah mempersulit diri dan langkahku. Aku pun memikul tanggung jawab yang diberikan orang tuaku. Namun, hanya ia satu-satunya yang kumiliki. Ia adalah orang yang selalu bekerja keras agar suatu saat aku bisa menjadi kebanggaan. Bukan kebanggaan bagi orang lain katanya, namun kebanggaan bagi diri sendiri. Aku tahu ini terdengar narsis, tapi beliau pernah berkata “kalau kita menjadi kebanggaan untuk diri kita sendiri, berarti kita sudah menghargai diri sendiri. Hidup itu yang mengatur dirimu sendiri, kan?” Ya, dari kalimat itu aku sadar. Aku harus mempercayakan semua cita-cita dan kebahagiaan pada diriku sendiri, karena diri kita dan hanya diri kita yang bisa merubah hidup kita.

Tadinya aku merasa tak ada yang bisa dibanggakan dari diriku. Aku tidak mempunyai mimpi yang ingin aku wujudkan. Aku adalah seseorang yang akan menjalani apa saja yang terjadi hari ini. Aku akan merubah apa saja yang aku ingin rubah hari ini. Namun, seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa mimpi itu penting. Bahwa mimpilah yang selama ini harus aku buat. Ya, dari mimpi kita akan mengerti bahwa hidup tak hanya hari ini, kalaupun iya setidaknya kamu sudah berada dijalan dimana kamu dapat mengerti seberapa besar keinginanmu untuk mewujudkan mimpimu, untuk berguna bagi manusia lain.

Saat ini aku sudah di koridor dimana aku akan mewujudkan cita-citaku. Jurnalis Musik. Aku ingin menjadi perekam sejarah permusikan. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa menunjukan pada diri sendiri bahwa aku ini bisa. Bahwa aku sudah bangga menjadi seorang aku yang aku inginkan dulu. Setelah itu aku wujudkan, aku ingin orang tuaku tersenyum dan berkata, “Kamu sukses mencari dan menjadi siapa dirimu, Nak”.